aprinia.nisa10's blog

mencari dan memberi yang terbaik

cerita inspirasi diri sendiri

September19

Nama      : Aprinia Solikhatun Nisa

NRP       : H34100079

Laskar    : 12 (Wahidin Sudirohusido)

Rizki Tak Akan Kemana

Tak ada yang menarik dari ku, tak ada yang bisa membuat orang terinsipirasi dariku, menurutku paling tidak. tapi aku punya suatu hal yang sangat berharga yang mungkin bisa membuat orang lain terinspirasi, meski sedikit.

Dibilang pintar tidak juga, dibilang rajin apalagi. Tapi selalu percaya bahwa rizki yang diberikan Tuhan tak akan lari kemana, asal kita juga selalu berusaha dan berdoa semampu kita dan sekuat kita untuk mengejar suatu hal.

Dari kecil, aku ini sering pindah sekolah, bahkan pernah merasakan duduk di dalam kelas yang pengap, kecil, ditempati untuk 60 orang murid. Bahkan kami mengenal sekolah pagi, siang, dan sore. Kami bergantian kelas. Hanya 6 ruang kelas yang tersedia, namun 900 siswa yang bersekolah. SD INPRES 109 Sorong, Papua.

Menginjak kelas 3 SD, pindah ke Jawa. Bukan hanya sering tapi terlalu sering untuk di ejek karena Papua yang di bilang primitif, tidak pintar. Naik kelas 4 SD, pindah sekolah lagi, bermaksud daftar di sekolah favorit tapi ditolak hanya karena yang notabene anak Papua akan sulit mengejar materi bersama teman-teman yang lain.

Lulus SMP, tak menyangka akan masuk ke SMA favorit. Padahal teman-teman SMP ku tidak. Duduk di kelas X, walau hanya kelas reguler, merasa minder dengan teman-temen sekelas yang berasal dari SMP favorit yang dibilang mereka ini pintar. Terlalu sering hanya bermodalkan apa yang diberikan guru di kelas itulah bekal ku untuk ulangan harian, bahkan teman-teman yang lain sangat serius dalam belajar, tapi nilai yang kami peroleh sama.

Naik kelas XI, masuk ke kelas yang isinya anak pintar semua, anak olimpiade, semakin merasa minder. Di kelas ini tak cukup kalau hanya bermodalkan penjelasan guru di kelas, kami harus belajar agar tidak menjdi yang terendah. Keberuntungan ternyata tak cukup, baru kurasakan di kelas ini, harus ada usaha. Meski tidak mengalami yang namanya remidi, tapi kalau jadi yang terendah akan malu rasanya.

Kalau pintar, jangan sombong. Itu kata orang dan benar adanya. Merasa pintar, hingga menyepelekan tiap kesempatan untuk mendaftar di berbagai perguruan tinggi, bagi perguruan tinggi yang telah menyelenggarakan PMDK. Karena merasa kurang pandai, aku mencoba mendaftar di salah satu perguruan tinggi itu. Iseng-iseng berhadiah kata orang. Ternyata diterima dan masuk ke jurusan yang kata orang sangat diminati banyak orang. Padahal teman ku yang sangat pintar bahkan olimpiade kimia pun gagal dalam seleksi ini, terlalu percaya diri kalau akan diterima. Padahal sebernarnnya aku pun tidak terlalu suka, bahkan sangat tidak suka. Karena aku punya cita-cita lain. Tapi mau bagaimana lagi, restu orang tua, restu Allah.

Belajar dari pengalaman itu, teman-teman ku mencoba untuk tidak terlalu percaya diri terhadap suatu hal apalagi yang menyebabkan riya’, boleh saja percaya diri tapi ada batasnya. Teman-temanku harus berjuang sampai tes paling terakhir untuk mendapatkan perguruan tinggi, mereka harus berjuang sampai SNMPTN, bahkan sampai UM 2 bagi universitas yang mengadakan seleksi setelah SNMPTN. Walau pun pada akhirnya memang semua diterima di perguruan tinggi negeri bahkan di universitas terbaik dan di jurusan yang dapat diperhitungkan untuk prospek kerjanya, tapi kita juga menyadari kalau rizki tak akan kemana dan Allah Maha Adil, yang pintar harus berjuang mati-matian dan yang tidak pintar harus tetap berusaha. Rizki telah diatur tergantung kita yang mencarinya. Restu orang tua adalah bekal utama kita nanti.

posted under Academic | No Comments »

tokoh ispirasi

September19

Nama     : Aprinia Solikhatun Nisa

NRP      : H34100079

Laskar    : 12 (Wahidin Sudirohusodo)

Adam Malik : dari Jurnalis menjadi Diplomat

Adam Malik Batubara, politikus terkenal dengan idiom politiknya ‘semua bisa diatur’ ini dilahirkan di Pematang Siantar, Sumatera Utara, 22 Juli 1917 dari pasangan Haji Abdul Malik Batubara dan Salamah Lubis. Menonton film koboi, membaca, dan fotografi adalah kegemarannnya dari kecil. Setelah lulus dari HIS, sang ayah menyuruhnya memimpin toko ‘Murah’, di seberang bioskop Deli. Di sela-sela kesibukannya itu, ia banyak membaca berbagai buku yang memperkaya pengetahuan dan wawasannya.

Di usianya yang menginjak 17 tahun, ia telah menjadi ketua Partindo di Pematang Sintar (1934-1935) untuk ikut aktif memperjuangkan kemerdekaan bangsanya. Dan mendorong Adam Malik untuk merantau ke Jakarta.

Pada usia 20 tahun, bersama dengan Soemanang, Sipahutar, Armin Pane, Abdul Hakim, Pandu Kartawiguna, memelopori berdirinya kantor  berita Antara tahun 1937 berkantor di Jl. Pinangsia 38 Jakarta Kota. Dengan modal  satu meja tulis tua, satu mesin tulis tua, dan satu mesin roneo tua, mereka menyuplai berita ke berbagai surat kabar nasional. Sebelumnya, Adam Malik sudah sering menulis di koran Pelita Andalas dan Majalah Partindo.

Adam Malik aktif bergerilya. Ia juga salah satu orang yang membawa Bung Karno dan Bung Hatta ke Rengasdengklok. Demi mendukung kepemimpinan Soekarno-Hatta, ia menggerakkan rakyat berkupul di lapangan Ikada, Jakarta.

Mewakili kelompok pemuda, Adam Malik sebagai pimpinan Komite Van Aksi, terpilih sebagai Ketua II Komite Nasional Indonesia Pusat (1945-1947) yang bertugas menyiapkan susunan pemerintahan. Selain itu, Adam Malik adalah pendiri dan anggota Partai Rakyat, pendiri Partai Murba, dan anggota parlemen.

Akhir tahun lima puluhan, atas penunjukan Soekarno, Adam Malik masuk ke pemerintahan menjadi duta besar luar biasa dan berkuasa penuh untuk Soviet dan Polandia. Karena kemampuan diplomasinya, Adam Malik kemudian menjadi ketua Delegasi RI dalam perundingan Indonesia-Belanda, untuk penyerahan Irian Barat di tahun 1962.

Setelah itu, ia memegang jabatan sebagai Menko Pelaksana Ekonomi Terpimpin di tahun 1965. Saat semakin menguatnya pengaruh komunis, ia bersama Roeslan Abdulgani dan Jenderal Nasution dianggap sebagai musuh PKI dan dicap sebagai trio sayap kanan yang kontra-revolusi. Namun posisi ini malah menguntungkan baginya. Pada tahun 1966, ia masuk ke dalam trio baru Soeharto-Sultan-Malik.

Di tahun yang sama ia keluar dari Partai Murba dan bergabung dengan Golkar. Sejak 1966-1977 ia menjabat Wakil Perdana Menteri II dan Menlu RI.

Sebagai Menlu, ia berperan dalam berbagai perundingan dan memelopori terbentuknya ASEAN tahun 1967. Ia bahkan dipercaya menjadi Ketua Sidang Majelis Umum PBB ke-26 di New York. Ia orang Asia kedua yang memimpin sidang lembaga tertinggi badan dunia itu. Tahun 1977, ia terpilih menjadi Ketua DPR/MPR. Tiga bulan berikutnya, ia terpilih menjadi Wakil Presiden RI ke-3.

Sebagai seorang diplomat, wartawan bahkan birokrat, ia sering mengatakan ‘semua bisa diatur’. Sebagai diplomat ia memang dikenal selalu mempunyai 1001 jawaban atas segala macam pertanyaan dan permasalahan yang dihadapkan kepadanya. Tapi perkataan ‘semua bisa diatur’ itu juga sekaligus sebagai lontaran kritik bahwa di negara ini ‘semua bisa diatur’ dengan uang.

Meski hanya lulusan HIS (sekarang setingkat SD), namun ia mampu mengembangkan bakat yang ada dalam dirinya, keterbatasan kondisi dan situasi saat itu tak membuatnya patah semangat. Dari hobi membaca, ia menjadi jurnalis, birokrat, hingga diplomat. Dengan menjadi jurnalis ia berjuang di masa penjajahan dengan mendirikan kantor berita dan menyuplai koran-koran. Melalui diplomat, ia memperjuangkan kemerdekaan RI di berbagai perundingan-perundingan. Sebagai seorang birokrat, ia tetap memperjuangkan rakyat, yang tak hanya memikirkan kepentingan pribadi semata.

Dari jurnalis menjadi diplomat, inilah Adam Malik. Semangat patriotismenya tinggi. Apa yang bisa dilakukan, ia lakukan untuk kepentingan umum, melalui jurnalistik ataupun diplomasinya.

Setelah mengabdikan diri demi bangsa dan negaranya, H.Adam Malik meninggal di Bandung pada 5 September 1984 kanker lever. Kemudian, isteri dan anak-anaknya mengabdikan namanya dengan mendirikan Museum Adam Malik. Pemerintah juga memberikan berbagai tanda kehormatan.

posted under Academic | No Comments »